Wednesday, 9 October 2013

Sejarah Kota Palangka Raya dan Mimpi serta Ambisi Ir.Soekarno

Sejarah Kota Cantik Palangka Raya

…. Jadikanlah Kota Palangka Raya sebagai Modal dan Model…
“ Jangan Membangun Bangunan Di sepanjang Tepi Sungai Kahayan
Dan Lahan di Sepanjang Tepi Sungai tersebut, hendaknya diperuntukkan bagi taman sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah pada saat orang melewati sungai tersebut..” (Soekarno, 1957)
 
Tugu Tiang Pancang yang diresmikan oleh Soekarno


Profil
Nama Resmi
:
Kota palangkaraya
Ibukota
:
Palangkaraya
Provinsi 
:
Kalimantan Tengah
Batas Wilayah
:
Sebelah Utara : Kabupaten Gunung Mas
Sebelah Timur : Kabupaten Pulang Pisau
Sebelah Selatan : Kabupaten Pulang Pisau
Sebelah Barat : Kabupaten Katingan
Luas Wilayah
:
2.399,50 Km2
Jumlah Penduduk
:
220.578 Jiwa
Wilayah Administrasi
Website
:
:
Kecamatan : 5, Kelurahan : 30, Desa : 
Arti Logo

RINCIAN:
1.       Bentuk: Badge Berbentuk Persegi
2.       Tata Warna: Hitam, Hijau, Kuning dan Putih
3.       Tulisan: Kata-kata “Palangka Raya“ Putih di atas dasar hitam dan IsenMulang
4.       Lukisan:
- Bundaran Hijau
- Setangkai Padi berdaun enam helai dan tujuh belas biji yang sudahMekar.
- Mandau dan Sumpit.
- Bunga Melati di dalam bundaran, berbintikan bundaran kecil yangdihubungkan dengan jalur-jalur jalan.

5.       Susunan:
      -Dibagian atas melintang bidang lengkung berwarna hitam bertahtakanaksara dengan huruf-huruf balok putih “ PALANGKA RAYA “.

      - Ditengah-tengah dilukiskan sebuah bundaran, jalur-jalur jalan dan bundaran kecil sebagian didalamnya.
      - Mandau dan Sumpitan menyilang di belakang bundaran, setangkai Padidan Kapas.
      - Di bagian bawah sehelai pita putih dengan tulisan huruf balok warnahitam “ISEN MULANG“.

      - Warna dasar ialah hijau dan kuning di tengah-tengahnya.
      - Warna garis tepi lambang ialah hitam 
A.       UMUM
1.      Perisai adalah alat penangkis, merupakan salah satu alat untukmempertahankan diri, walaupun pemilik/pemegangnya nampakbersahaja, namun pada hakekatnya selalu ingin selaras dan sesuaidengan perkembangan jaman, terus maju berjuang melawankemelaratan untuk menegakkan kebenaran yang dipimpin olehhikmat kebijaksanaan berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 danPancasila.
2.      Bidang lengkung hitam bertahtakan aksara “Palangka Raya“melambangkan kehidupan suci, bersih, teguh, dan kokoh, olehkarena sifatnya kekal.
3.    Bunga dan melati berdaun lima ditengah, melambangkankepamongprajaan yang menghiasi petugas-petugas/pejabatpamong praja di Indonesia.
4.      Bundaran di dalam melambangkan kesejahteraan asal mulaterjadinya sebuah kota (merupakan lapangan alun-alun ataukegiatan penduduk), kemudian dihubungkan di jalur-jalur jalan kesegala jurusan sebagai syarat pengembangan kota
B.       KHUSUS
1.      Palangka Raya terdiri dari kata “Palangka dan Raya“. Palangka RayaBulau berasal dari suatu wadah Palangka (bagian muka danbelakang, melukiskan bentuk gambar Burung Elang) yang menurutkepercayaan leluhur/nenek moyang suku dayak, dipakai olehMahatala Langit (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menurunkanmanusia pertama ke atas dunia.
2.      Setangkai padi berdaun enam helai dan tujuh belas butir buahnya,setangkai kapas berdaun lima helai dan enam buahnya yang sudahmekar dan putih, melambangkan saat peresmian Pemerintah KotaPalangka Raya mulai berotonomi penuh pada tanggal 17 Juni 1965.
3.      Warna dasar hijau, menyatakan secara geografis wilayah KotaPalangka Raya 75% terdiri hutan dan danau, berartikan kesuburan.Warna dasar kuning lambang kejayaan, cerah, terbuka danberkembang.
C.       ARTI KESELURUHAN LAMBANG
1.      Keberanian/kemauan membangun Kota Palangka Raya dari suatudaerah hutan, menjadi kota bersemboyan “ISEN MULANG“ ,dengan modal alam dan tenaga demi kejayaan Negara padaumumnya dan rakyat Kalimantan pada khususnya.
2.       Dilengkapi dengan amal, kegiatan, cita-cita dan tekad kepamongprajaan bersemboyan “TUT WURI HANDAYANI“ untukmembina/membimbing masyarakat kearah kesejahteraan rohaniahdan jasmaniah berpedoman falsafah Negara Pancasila.
Nilai Budaya
Museum Balanga

Museum ini terletak di Jalan Tjilik Riwut Km 2,5 dengan luas kurang lebih 5 (lima) Ha. Museum ini berada di dalam kota Palangka Raya dan mudah untuk dikunjungi karena dibuka setiap hari dari jam 08.00 – 12.00 WIB, dan ada petugas pemandu.
Museum Belanga ini berkiprah sebagai lembaga pelestarian, pendokumentasian, serta penyajian berbagai koleksi peninggalan budaya suku Dayak dan segala yang berkaitan dengan sejarah kehidupan suku dayak, seperti ethnografika, barang-barang warisan leluhur dayak yang banyak memiliki kekuatan megic. Di museum ini tersimpan juga berbagai alat tradisonal yang biasa dipakai oleh suku Dayak pada jaman dahulu seperti ―Mihing― (sebuah penangkap ikan tradisional), baju sakarut atau baju Karungkong Sulau, atau juga baju Basurat yang biasa dipakai pada upacara ritual, senjata-senjata suku Dayak seperti Mandau, Sumpitan, Duhung, dan sebagainya.

SEJARAH



Terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah melalui proses yang cukup panjang sehingga mencapai puncaknya pada tanggal 23 Mei 1957 dan dikuatkan dengan Undang-undang Darurat Nomor 10 tahun 1957,  yaitu tentang Pembentukan Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah. Sejak saatitu Provinsi Kalimantan Tengah resmi sebagai daerah otonom, sekaligus sebagai hari jadi Provinsi Kalimantan Tengah.
Sedangkan tiang pertama Pembangunan Kota Palangka Raya dilakukan oleh Presiden RepublikIndonesia SOEKARNO pada tanggal 17 Juli 1957 dengan ditandai peresmian Monumen/Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah di Pahandut yang mempunyai makna:
1.      Angka 17 melambangkan hikmah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
2.      Tugu Api berarti api tak kunjung padam, semangat kemerdekaan dan membangun.
3.      Pilar yang berjumlah 17 berarti senjata untuk berperang.
4.      Segi Lima Bentuk Tugu melambangkan Pancasila mengandung makna Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian berdasarkan Undang-undang Nomor 21Tahun1958 Ibu Kota Provinsi yang dulunya Pahandut berganti nama dengan Palngka Raya.
Sejarah pembentukan Pemerintahan Kota Palangka Raya merupakan bagian integral dari pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957, lembaran Negara Nomor 53 berikut penjelasannya (Tambahan Lembaran Negara Nomor 1284) berlaku mulai tanggal 23 Mei 1957, yang selanjutnya disebut Undang-Undang Pembentukan Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1958, Parlemen Republik Indonesia tanggal 11 Mei 1959 mengesahkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959, yang menetapkan pembagian Propinsi Kalimantan Tengah dalam 5 (lima) Kabupaten dan Palangka Raya sebagai Ibukotanya. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 dan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia tanggal 22 Desember 1959 Nomor Des. 52/12/2-206, maka ditetapkanlah pemindahan tempat dan kedudukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah dari Banjarmasin ke Palangka Raya terhitung tanggal 20 Desember 1959. Selanjutnya, Kecamatan Kahayan Tengah yang berkedudukan di Pahandut secara bertahap mengalami perubahan dengan mendapat tambahan tugas dan fungsinya, antara lain mempersiapkan Kotapraja Palangka Raya. Kahayan Tengah ini dipimpin oleh Asisten Wedana, yang pada waktu itu dijabat oleh J. M. NAHAN.
Peningkatan secara bertahap Kecamatan Kahayan Tengah tersebut, lebih nyata lagi setelah dilantiknya Bapak TJILIK RIWUT sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah pada tanggal 23 Desember 1959 oleh Menteri Dalam Negeri, dan Kecamatan Kahayan Tengah di Pahandut dipindahkan ke Bukit Rawi. Pada tanggal 11 Mei 1960, dibentuk pula Kecamatan Palangka Khusus Persiapan Kotapraja Palangka Raya, yang dipimpin oleh J.M. NAHAN. Selanjutnya sejak tanggal 20 Juni 1962 Kecamatan Palangka Khusus Persiapan Kotapraja Palangka Raya dipimpin oleh W. COENRAD dengan sebutan Kepala Pemerintahan Kotapraja Administratif Palangka Raya.
Perubahan, peningkatan dan pembentukan yang dilaksanakan untuk kelengkapan Kotapraja Administratif Palangka Raya dengan membentuk 3 (tiga) Kecamatan, yaitu:
1. Kecamatan Palangka di Pahandut.
2. Kecamatan Bukit Batu di Tangkiling.
3. Kecamatan Petuk Katimpun di Marang Ngandurung Langit.
Kemudian pada awal tahun 1964, Kecamatan Palangka di Pahandut dipecah menjadi 2 (dua) kecamatan, yaitu:
1. Kecamatan Pahandut di Pahandut.
2. Kecamatan Palangka di Palangka Raya

Sehingga Kotapraja Administratif Palangka Raya telah mempunyai 4 (empat) kecamatan dan 17 (tujuh belas) kampung, yang berarti ketentuan-ketentuan dan persyaratan-persyaratan untuk menjadi satu Kotapraja yang otonom sudah dapat dipenuhi serta dengan disyahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1965, Lembaran Negara Nomor 48 tahun 1965 tanggal 12 Juni 1965 yang menetapkan Kotapraja Administratif Palangka Raya, maka terbentuklah Kotapraja Palangka Raya yang Otonom.
Peresmian Kotapraja Palangka Raya menjadi Kotapraja yang Otonom dihadiri oleh Ketua Komisi B DPRGR, Bapak L.S. HANDOKO WIDJOYO, para anggota DPRGR, Pejabat-pejabat Depertemen Dalam Negeri, Deputy Antar Daerah Kalimantan Brigadir Jendral TNI M. PANGGABEAN, Deyahdak II Kalimantan, Utusan-utusan Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan dan beberapa pejabat tinggi Kalimantan Lainnya.
Upacara peresmian berlangsung di Lapangan Bukit Ngalangkang halaman Balai Kota dan sebagai catatan sejarah yang tidak dapat dilupakan sebelum upacara peresmian dilangsungkan pada pukul 08.00 pagi, diadakan demonstrasi penerjunan payung dengan membawa lambang Kotapraja Palangka Raya.
Demonstrasi penerjunan payung ini, dipelopori oleh Wing Pendidikan II Pangkalan Udara Republik Indonesia Margahayu Bandung yang berjumlah 14 (empat belas) orang, dibawah pimpinan Ketua Tim Letnan Udara II M. DAHLAN, mantan paratrop AURI yang terjun di Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Demonstrasi penerjunan payung dilakukan dengan mempergunakan pesawat T-568 Garuda Oil, di bawah pimpinan Kapten Pilot Arifin, Copilot Rusli dengan 4 (empat) awak pesawat, yang diikuti oleh seorang undangan khusus Kapten Udara F.M. Soejoto (juga mantan Paratrop 17 Oktober 1947) yang diikuti oleh 10 orang sukarelawan dari Brigade Bantuan Tempur Jakarta. Selanjutnya, lambang Kotapraja Palangka Raya dibawa dengan parade jalan kaki oleh para penerjun payung ke lapangan upacara. Pada hari itu, dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah Bapak TJILIK RIWUT ditunjuk selaku penguasa Kotapraja Palangka Raya dan oleh Menteri Dalam Negeri diserahkan lambang Kotapraja Palangka Raya.
Pada upacara peresmian Kotapraja Otonom Palangka Raya tanggal 17 Juni 1965 itu, Penguasa Kotapraja Palangka Raya, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah, menyerahkan Anak Kunci Emas (seberat 170 gram) melalui Menteri Dalam Negeri kepada Presiden Republik Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan selubung papan nama Kantor Walikota Kepala Daerah Kotapraja Palangka Raya.

Mimpi  Ir. Sukarno Akan Kota Palangka Raya
Pada buku karya Wijanarka dalam “Sukarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya”, betapa mimpi Ir. Sukarno pasca kemerdekaan RI dalam merancang calon ibu kota negara di kota cantik Palangka Raya ini. Siapa yang bisa membayangkan betapa kota yang sangat sepi, minim fasilitas dan langka energi listrik ini adalah bekas kota ambisi presiden pertama RI sebagai Ibukota Negara. Ini yang sempat terbesit dalam pertanyaan saya mengapa Palangkaraya menjadi ibukota Provinsi, padahal secara geografis umumnya ibukota selalu berada di daerah pesisir. Kondisi ini sangat mungkin karena sebelumnya kota tersebut sudah dirancang sebagai ibukota RI meski akhirnya berakhir sebagai ibukota Provinsi.
Kota Palangkaraya secara geografis terletak pada 6⁰40’ – 7⁰20’ Bujur Timur dan 1⁰31’ – 2⁰30’ Lintang Selatan. Saat ini secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas pada sisi utara dan timur, kabupaten Pulang Pisau pada sisi selatan dan Kabupaten Katingan pada sisi barat. Kota Palangkaraya mulai dibangun dengan ditandai adanya pemancangan tiang pertama pembangunan kota oleh Presiden RI pertama pada tanggal 17 Juli 1957.
Sepertinya Palangkaraya dan Kalimantan Tengah memiliki ikatan batin yang kuat dengan Soekarno.  Dalam buku Wijanarka (2006), pada tahun 1957, beliau pernah berkunjung bersama rombongan (40 orang) yang terdiri dari dua orang duta besar, menteri-menteri, dan pegawai istana. Lokasi pemancangan tiang pancang yang saat terletak diseberang gedung DPRD disyahkan oleh presiden pertama kita kala itu. Menurut Tjilik Riwut, pada bagian akhir pidato Gubernur Milono yang memimpin pada saat itu menyatakan dua keistimewaan Palangkaraya:
Pertama: Pada symbol angka 17 dimana Provinsi Kalimantan Tengah merupakan propinsi ke-17, dilahirkan oleh Kabinet Karya, Kabinet ke-17 dan Pahandut kampong ke-17 dari Kuala Kapuas Ibu Kota Kabupaten Kapuas, dan kampong yang ke-17 dari Muara Sungai Kahayan.
Kedua: Lahirlah provinsi Kalimantan Tengah bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Paskah. Karenanya, kata beliau tetap peliharalah kesucian dan kemuliaan tersebut seterusnya dan janganlah nantinya menjadi tempat perebutan pangkat dan kursi.

Sangat tidak mengherankan bagi seorang Sukarno, lulusan insinyur tentu memiliki ambisi tersendiri untuk menjadikan suatu kota dirancang oleh buah pikiran putra bangsa. Setelah melihat Jakarta yang sudah terbentuk dalam desain kolonial, maka beliau mencoba untuk mendesain sendiri ibukota yang ada dalam angan-angannya. Dua tahun (sejak 1957-1959) kota ini dibangun melalui rancangan pikiran Ir. Sukarno, mulai dari bundaran besar, taman kota, tiang pancang, istana, bundaran kecil, dll.
Jika kita berjalan-jalan dan mengamati kota Palangkaraya, sangat tampak bahwa kota ini sudah memiliki rencana desain sebelum penduduk bermukim, dilihat dari luas jalan yang lebar, disamping kanan dan kiri jalan terdapat taman dan jalan pedestrian, taman di antara ruas jalan, dan bundaran. Ditambah lagi jumlah penduduk yang tidak padat membuat sangat nyaman berada di kota ini. Hanya sangat disayangkan, menjelang malam kondisi kota menjadi sangat gelap. Cukup ironis, kalimantan mengalami krisis energi di lambung sendiri, sehingga lampu-lampu disepanjang jalan tidak mampu mempercantik kota ini, sayang sekali, keluar dari impian Soekarno saat itu.
Melihat keterkaitan realitas yang terjadi di kota Palangkaraya dengan kaitan sejarah masa lalu, muncul asumsi pribadi saya dalam mengamati kota ini. Pertama, Jika dikaitkan dengan politik, Kalimantan Tengah merupakan basis PDI Perjuangan, yang dipimpin oleh Megawati yang notabene Putri Alm. Ir. Sukarno. Entah analisis saya ini mengada-ada atau memang tepat, sebagai pendatang cukup mengherankan mengapa Provinsi dengan 13 Kabupaten & 1 kotamadya memiliki hampir seluruh bupati (kecuali bupati Pulang Pisau) lahir dari partai PDI. Di kota ini pula terdapat kantor PDI yang begitu megah dan telah diresmikan oleh Ibu Megawati beberapa minggu lalu sebagai kantor terbesar di seluruh Indonesia. Apalagi yang tidak mengherankan selain sebuah ikatan batin yang kuat antara Sukarno dan orang-orang di Kalimantan Tengah. Kedua, Saya merasa sangat terheran dengan kota Palangkaraya, tempat dimana heterogenitas keyakinan berbaur dengan cantik dan orang saling menghormati agama satu dengan lainnya. Mungkin benar bahwa doa RT. Milono tentang kelahiran kota Palangkaraya yang bertepatan dengan hari besar dua agama. Kota ini memiliki gereja dimana-mana, demikian pula Masjid dan Pura, semakin mempercantik heterogenitas. Ketiga, mungkin jiwa mental “pegawai” yang dialami warga kota disini karena sudah ter-setting sejak terbentuknya kota ini (tahun 1957) yang kala itu sudah terbangun perkantoran pemerintahan, sehingga setiap orang yang hendak bermukim di kota ini tentu dalam perkembangannya pasti berniat bekerja di kantor pemerintahan.
Cikal bakal kota Palangka Raya adalah Pahandut, yaitu sebuah kampung yang saat ini menjadi kecamatan. Pahandut berasal dari kata Bapa handut (bahasa dayak ngaju), yang artinya ayah Handut. Bapa Handut adalah salah satu penduduk yang membuka hutan belantara untuk dijadikan tempat tinggal sementara yang bernama Kampung Pahandut. Oleh Bapa Handut, daerah tersebut ditandai dengan Pohon Asam yang ditanamkannya dan kini letaknya disekitar dermaga Rambang. Disebelah barat daya dari pohon asam tersebut terdapat danau Seha. Sekarang kampong Pahandut itu berada pada lingkungan wilayah Jl. Kalimantan, Jl. Sulawesi, Jl. Bangka, Jl. Sumatera, dll dimana terhubung Jln. A. Yani menuju pusat Palangkaraya (Wijanarka, 2006). Daerah tua dari kota Palangkaraya ini memang daerah yang padat penduduknya. Di kanan kiri jalan banyak pertokoan dan jika berjalan menelusuri wilayah jalan-jalan bernama pulau-pulau tersebut, tampak danau Seha yang saat ini menjadi komplek danau seha yang sudah tertutupi oleh pemukiman-pemukiman yang lokasinya seperti mangkok yang menjorok jauh kebawah.
Lahan disepanjang Sungai Kahayan telah dibangun pemukiman yang sangat padat, beberapa hari yang lalu, saat menyaksikan perlombaan perahu hias dalam Festival Isen Mulang, saya mengitasi sungai Kahayan diwilayah Pahandut, tempat dimana pertama kali Palangkaraya lahir. Sayangnya wilayah ini semakin padat dan kumuh sepertinya  bertentangan dengan impian Sukarno untuk tidak  membangun bangunan di sepanjang tepi sungai Kahayan dan menjadikan tempat tersebut sebagai taman sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah pada saat orang melewati sungai tersebut.

Mengapa batal menjadi ibukota NKRI?
Menurut sejarah pembangunan kota Jakarta yang resmi menjadi ibukota pada tahun 1964, masterplan pendahuluan Jakarta dibuat tahun 1956 yang mana masterplan ini diilhami ole ide-ide Sukarno dari hasil keliling dunianya ke India, USA, Kanada, Rusia, Italia, Jerman, Swiss, dan Cina. Akan tetapi, karena struktur kota Jakarta telah terbentuk, ide-ide Sukarno tersebut tidak maksimal dapat diimplementasikan (Wijanarka, 2006).
Pada saat itu, masyarakat (Kalimantan Tengah) menginginkan terbentuknya Provinsi Kalimantan Tengah yang mana pada akhirnya rencana Ibukota Kalimantan Tengah (Palangkaraya) menjadi kesempatan emas bagi Sukarno dalam menuangkan ide-idenya. Berdasarkan pengalamannya keliling dunia dan beberapa kota di Indonesia, pada akhirnya desain Kota Palangkaraya yang diciptakannya dipersiapkan juga untuk ibukota RI (Wijanarka, 2006).
Batalnya Palangkaraya menjadi ibukota RI disebabkan oleh sulitnya pengadaan bahan bangunan dan medan yang masih sangat sulit menuju kota Palangkaraya (saat pembangunan tahun 1957-1959), ditambah lagi tiga aspek (Wijanarka, 2006) yaitu:
Keberadaan sejarah kota Jakarta yang sudah terbentuk komposisinya oleh pemerintah colonial akhirnya memaksa Soekarno untuk meneruskan program-program pembangunan seperti Jakarta by Pass, Jalan Tanjung Priok-Cililitan, Jalan Cawang, Lapangan Terbang Kemayoran, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, Masjid Istiqlal dan Monumen Nasional.
Desakan para duta besar negara sahabat, Mungkin, saat peletakan tiang pancang Kota Palangkaraya, Sukarno juga mempromosikan calon ibukota RI kepada dua duta besar Negara adidaya Rusia (DA Zukov) dan Amerika (Hugh Cumming Jr) yang pada waktu itu oleh Sukarno diajak ke Palangkaraya. Mungkin pula dengan mengalami beratnya medan perjalanan ke Palangkaraya saat itu, dan mungkin adanya hasil evaluasi Sukarno tahun 1959 yang menunjukkan sulitnya pengadaan bahan bangunan dalam proses pembangunan Kota Palangkaraya, kedua duta besar yang saat itu sangat berpengaruh terhadap dunia mendesak Sukarno untuk memilih Jakarta sebagai Ibukota RI.
Agenda RI tentang even-even internasional. Ambisi sukarno yaitu mempromosikan RI keluar negeri seperti Asian Games (1962), Ganefo dan Konferensi Wartawan Asia Afrika, maka dari itu dibangun Gelora Bung Karno, Bundaran HI, dan gedung DPR/MPR.
Palangkaraya cenderung berada pada letak yang berada di tengah-tengah wilayah RI. Dalam sejarahnya, berawal dari pemancangan tiang pancang untuk pembangunan kota, maka Sukarno sudah  membentuk sumbu kota yang berfungsi sebagai prinsip dasar desain kota. Menurut arah mata angin, dari titik tiang pancang, sumbu ini mengarah ke barat daya dan timur laut. Kearah timur laut, sumbu ini berakhir di Sungai Kahayan, sedangkan kea rah barat daya, sumbu ini berakhir di Jakarta. Adanya konsep ini menunjukkan bahwa Palangkaraya termasuk cosmic city, yaitu kota yang mengintrepetasi kepercayaan dan atau daya alam. Kini sumbu tersebut terkoneksi erat antara Sungai Kahayan- Tiang Pancang – Bangunan istana – Yos Sudarso – Jakarta (Wijanarka, 2006).

Makna Bundaran besar menurut rancangan Sukarno

Tidak banyak yang memahami dan menyadari bahwa bundaran besar (nama popular saat ini) yang terletak dipusat kota yang dikelilingi oleh Istana Gubernur (lambang pemerintahan), Gedung Batang Garing (lambang bisnis) maupun Palangkaraya Mall (sarana hiburan rakyat). Menurut Wijanarka, Di depan istana, terdapat jalan silang 8 bundaran dengan jari-jari bundarannya 2×45 meter. Konsep desain silang 8 bundaran ini menyimbolkan bulan dan tahun kemerdekaan RI. Delapan jalan silang tersebut memiliki dua makna yaitu menyimbolkan posisi Palangkaraya pada persimpangan delapan rumpun kepulauan RI (Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, Nusa Tenggara dan Irian Jaya), dan delapan sungai besar di Kalimantan Tengah yaitu Barito, Kapuas, Katingan, Mentaya, Seruyan, Kahayan, Arut dan Lamandau.



Daftar Pustaka :

Friday, 4 October 2013

Sejarah Futsal Indonesia

 SEJARAH FUTSAL INDONESIA


Sejarah perkembangan futsal Indonesia jika dibandingkan Negara Amerika Latin, Eropa dan Asia termasuk sangat terlambat, bahkan jika di bandingkan dengan Negara tetangga Malaysia atau Thailand. Meski anak negeri (Alm) Wandy Batangtaris telah duduk di Komite Futsal FIFA sejak 1997, namun futsal baru berkembang tahun 2005. Hal ini ditengarai ketidakmampuan melihat peluang para pengurus PSSI dan pengusaha. Berikut ini nama-nama pelopor dan pengembang futsal di Indonesia:

(ALM) Wandy Batangtaris (25 Maret 1942 – 15 Juni 2010).

Beliau ialah Anggota Komite Futsal FIFA dan Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri PSSI Era Bapak Azwar Anas sekaligus Anggota Komite Keuangan AFC (tahun 1997 – 2001), beliau menerima tawaran untuk
duduk di Komite Futsal FIFA karena yakin Futsal memiliki potensi dan prospek yang baik. Beliau adalah satu dari tiga wakil Negara Asia di Komite Futsal FIFA yaitu Junji Ogura (Jepang) dan Richard King Lai (Guam). Jasanya paling menonjol terhadap futsal adalah upaya mendorong PSSI agar mengembangkan futsal, diantaranya pengadaan bola futsal dan bahan lapangan futsal – yang pada saat itu tentu bukanlah perkara mudah – serta memperkenalkan aturan main (rule of the game) dan pedoman bermain futsal kepada pihak-pihak terkait di Indonersia.

(ALM) Ronny Pattinasarani.
Beliaulah yang disebut pelopor futsal di Indonesia, karena beliau pelatih dan tokoh lapangan, berbeda dengan Alm. Wandy Batangtaris yang berada di wilayah kepengurusan dan organisasi. Setelah mendapatkan perintah dari PSSI mengikuti Coacing Clinic Futsal di Malaysia tahun 2000, beliau menyebarluaskan futsal ke berbagai kalangan, termasuk SSB dan pemain Timnas sepakbola.
Kenangan teruniknya adalah ketika membawa bola merk luar negeri, karena penasaran dia membawa ke tukang pembuat bola dan membelahnya. Karena bola futsal bersifat khusus dan tidak boleh terlalu membal, benar saja bola itu ada lapisan peredam pantul. Sejak itu kami mengimpor bahan tersebut agar kita bisa memproduksi bola futsal sendiri. Dengan posisi sebagai Coach Nasional maka futsal cepat ditularkan kepada para pemain sepakbola, salah satunya Fachri Husaini. Oh ya, dalam perjuangannya beliau juga dibantu oleh teman sejawatnya tiga serangkai yaitu Cepi S. Husada,Abi Hasantoso dan Budiarto Shambazy
Justinus Lhaksana.
Beliau adalah pelatih Timnas Futsal Indonesia (2004 – 2005), pernah tinggal di Belanda selama 15 tahun dan pemegang sertifikat kepelatihan futsal KNVB (asosiasi sepakbola Belanda) dan berhak melatih level Divisi Utama di Belanda. Meski sempat diragukan kemampuannya dalam melatih Timnas, namun kala
itu timnas Indonesia berhasil mengalahkan Malaysia yang saat itu sulit
dikalahkan. Pada masanya peringkat Futsal Indonesia bercokol di urutan 29 Dunia (tahun 2012 berada di peringkat 47).
Tentu saja banyak tokoh lain yang ikut membantu perkembangan futsal di Tanah air dari sisi organisasi misalnya ada nama-nama:  Ronny Pangemanan (ketua Departemen Futsal PSSI 2004), Trimedya Panjaitan dan Gusti Randa(Ketum dan Waketum POFI – Persatuan Olahraga Futsal Indonesia, 2003), meski organisasi ini menginduk kepada AMF bukan FIFA, namun jasanya patut dicatat. Ada juga Abi Hasantoso, Anggota Tim Pengembangan Futsal. Sementara dari kalangan wasit tercatat nama-nama; Puji Suprayitno, Anang Suryana dan Puja Negara.
Dari sisi Event Organizer ada nama Andi Zamzami (Difamata) dengan even Inspiro Futsal Championship 2003 danDSFL (Djarum Super Futsal League) 2004, sementara ajang resmi PSSI diberi nama Biangbola (2004), pesertanya dari berbagai perusahaan dan juaranya adalah TVRI. Sementara tak ketinggalan para tokoh wanita pengembang futsal, diantaranya; Maya Virca (Biangbola Sport Management) dan Vivin C. Sungkono (Direktur Teknik Timnas Futsal Wanita dan pemilik V-sport).
Dari kalangan Event Organizer ada nama Andi Zamzami (Difamata) dengan even Inspiro Futsal Championship 2003dan DSFL (Djarum Super Futsal League) 2004, PEFI (Piala Emas Futsal Indonesia) dan LIFUMA (Liga Futsal Mahasiswa),dan disisi lain ajang resmi PSSI diberi nama Biangbola (2004), pesertanya dari berbagai perusahaan dan juaranya adalah TVRI. Sementara tak ketinggalan para tokoh wanita pengembang futsal, diantaranya; Maya Virca (Biangbola Sport Management) dan Vivin C. Sungkono, Direktur Teknik Timnas Futsal Wanita dan pemilik V-sport, pelopor LIFUMI (Liga Futsal Mahasiswi) serta penggerak  LFWI (Liga Futsal Wanita Indonesia)
Catatan Khusus diberikan kepada kalangan selebritis yang berjuang mengibarkan bendera Futsal Indonesia, diantaranya (Alm) Adjie Massaid (AMFC), (Alm) Ricky Jo (Ricky Johannes) presenter sepakbola, olahraga dan futsal, Tio Nugroho (BFN) dan Darius Sinatrya (Kit Futsalismo)
Demikianlah beberapa tokoh pengembang futsal di Indonesia, tanpa mengurangi rasa hormat dengan tokoh lain yang tak tertulis disini, penulis menanggap beliau-beliau adalah Generasi Pertama Pelopor Futsal Indonesia (rentang waktu tahun 1998 sampai 2010) meski tentu saja hingga tahun ini (2013) yang masih hidup tetap terus bekerja dan berkarya demi Kemajuan Futsal Indonesia


Daftar Pustaka

Thursday, 3 October 2013

Sejarah Futsal



SEJARAH FUTSAL DUNIA


Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan. Tidak seperti permainan sepak bola dalam ruangan lainnya, lapangan futsal dibatasi garis, bukan net atau papan.
Futsal turut juga dikenali dengan berbagai nama lain. Istilah "futsal" adalah istilah internasionalnya, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, futbol dan sala.
Meski tercatat dalam sejarah bahwa sepakbola dalam ruang pernah dilakukan di Kanada pada tahun 1854, serta terjadi perdebatan dan klaim dari beberapa negara atas asal muasal futsal, namun secara umum telah diterima bahwa Futsal ditemukan oleh Juan Carlos Ceriani. Jelang Piala Dunia Futsal Pertama kali di Uruguay tahun 1930. Ceriani, pelatih asal Argentina yang sedang melatih Tim Nasional sepakbola Uruguay ditahbiskan sebagai penemu olahraga ini.
Berawal dari rasa kesal dan dongkol kepada cuaca yang melanda Montevideo, jadwal latihan seringkali di ganggu datangnya hujan, latih tanding dan rencana yang disusunpun berantakan, jika hujan reda lapanganpun tergenang air. Tak ingin rencananya gagal terus, Ceriani memutuskan untuk mencari tempat tertutup agar timnya tetap bisa berlatih dan bertanding dan dipilihkan gedung bola basket. Pada awalnya di dalam gedung itu teknik dan cara bermain sepakbola diterapkan sama persis dengan sepakbola lapangan terbuka.
Beberapa waktu kemudian Ceriani mencoba mengurangi jumlah pemain dan menetapkan aturan-aturan baru permainan sepakbola dalam ruang itu. Para pemain yang rata-rata berusia muda dan penonton yang kebanyakan remaja saat itu tertarik dan mencoba memainkannya, mereka berkomentar permainan itu asik dan keren.
Pada saat itu nama futsal belumlah digunakan, permainan itu di sebut sebagai five-a-side-game sementara bagi Negara berbahasa Spanyol dan Portugis menyebutnya sebagai futebol de salao (sepakbola dalam ruang). Secara internasional dan nasional nama Indoor Soccer lebih popular jika di bandingkan kedua nama diatas. Nama Futsal digunakan secara resmi setelah FIFA pada tahun 1989 mengambil-alih pengelolaan dan penguasaan dari FIFUSA.
Perseteruan asal muasal olahraga futsal juga di lontarkan Brazil, selain Kanada. Brazil menganggap jauh sebelum Ceriani menemukan futsal di Montevideo, di negara Brazil, terutama kota Sao Paulo telah di lakukan pertandingan sepakbola street soccer yang mirip futsal.
Perseteruan pengelolaan dan penguasaan organisasi juga terjadi antara FIFUSA dan FIFA serta FIFA dan AMF. Pada awalnya FIFUSA (Federacao Internationale de Futebol de Salao) pemegang pengelolaan dan penguasaan futsal di dunia, pada masa ini futsal dikenal dengan nama five-a-side-game. Kemelut terjadi ketika presiden FIFUSA saat ituJoao Havelange, diangkat menjadi Presiden FIFA di tahun yang sama (1974). Melalui berbagai upaya akhirnya five-a-side-game diambil alih oleh FIFA pada tahun 1989 dan nama five-a-side-game dirubah menjadi futsal. Beberapa aturan penting dirubah diantaranya; Ukuran bola masa FIFUSA di buat lebih besar namun beratnya dipertahankan, memperkenalkan wasit kedua untuk mengganti hakim garis, dan tidak memberlakukan system offside, merubah lembaran kedalam menjadi tendangan ke dalam saat bola out dan tidak membatasi jumlah pemain keluar atau masuk pertandingan.
Perseteruan masih terus berlanjut hingga kini, sebagian anggota FIFUSA mendirikan organisasi tandingan lain untuk membidangi dan mengurusi futsal, yaitu AMF (Associacion Mundial de Futsal), sama seperti FIFA, AMF juga memiliki aturan bermain, Negara anggota, piala dunia dan kepengurusan di berbagai Negara, salah satu even yang terkenal adalah The Homeless World Cup dimana Indonesia pernah menjadi Juara Favorit dan mengalahkan banyak Negara Eropa, ajang ini diikuti oleh para pemain kategori kaum miskin, gelandangan atau penyandang masalah social lainnya. Sedangkan di Amerika Serikat juga ada turnamen bernama Street Soccer Cup dengan tujuan keakraban dan sangat diminati masyarakat.
Ketrampilan yang dikembangkan dalam permainan ini dapat dilihat dalam gaya terkenal dunia yang diperlihatkan pemain-pemain Brasil di luar ruangan, pada lapangan berukuran biasa. Pele, bintang terkenal Brasil, contohnya, mengembangkan bakatnya di futsal. Sementara Brasil terus menjadi pusat futsal dunia, permainan ini sekarang dimainkan di bawah perlindungan Fédération Internationale de Football Association di seluruh dunia, dariEropa hingga Amerika Tengah dan Amerika Utara serta Afrika, Asia, dan Oseania.
Pertandingan internasional pertama diadakan pada tahun 1965, Paraguay menjuarai Piala Amerika Selatan pertama. Enam perebutan Piala Amerika Selatan berikutnya diselenggarakan hingga tahun 1979, dan semua gelaran juara disapu habis Brasil. Brasil meneruskan dominasinya dengan meraih Piala Pan Amerika pertama tahun 1980 dan memenangkannya lagi pada perebutan berikutnya tahun pd 1984.
Kejuaraan Dunia Futsal pertama diadakan atas bantuan FIFUSA (sebelum anggota-anggotanya bergabung dengan FIFA pada tahun 1989) di Sao Paulo, Brasil, tahun 1982, berakhir dengan Brasil di posisi pertama. Brasil mengulangi kemenangannya di Kejuaraan Dunia kedua tahun 1985 di Spanyol, tetapi menderita kekalahan dari Paraguay dalam Kejuaraan Dunia ketiga tahun 1988 di Australia.
Pertandingan futsal internasional pertama diadakan di AS pada Desember 1985, di Universitas Negeri Sonoma di Rohnert Park, California

Lapangan Futsal bertaraf Internasional
Bola Futsal
 
Luas lapangan
Ukuran: panjang 25-43 m x lebar 15-25 m
Garis batas: garis selebar 8 cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; 3 m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
Daerah penalti: busur berukuran 6 m dari masing-masing tiang gawang
Titik penalti: 6 m dari titik tengah garis gawang
Titik penalti kedua: 10 m dari titik tengah garis gawang
Zona pergantian: daerah 5 m (5 m dari garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
Gawang: tinggi 2 m x lebar 3 m
Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasif

Bola
Ukuran: 4
Keliling: 62-64 cm
Berat: 0,4 - 0,44 kg
Lambungan: 55-65 cm pada pantulan pertama
Bahan: kulit atau bahan yang cocok lainnya (yaitu bahan tak berbahaya)
 
Ukuran Lapangan Standar
Jumlah Pemain/tim
Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan: 5, salah satunya penjaga gawang
Jumlah pemain minimal untuk mengakhiri pertandingan: 2 (tidak termasuk cedera)
Jumlah pemain cadangan maksimal: 7
Jumlah wasit: 2
Jumlah hakim garis: 0
Batas jumlah pergantian pemain: tak terbatas
Metode pergantian: "pergantian melayang" (semua pemain kecuali penjaga gawang boleh memasuki dan meninggalkan lapangan kapan saja; pergantian penjaga gawang hanya dapat dilakukan jika bola tak sedang dimainkan dan dengan persetujuan wasit)
Dan wasit pun tidak boleh menginjak arena lapangan , hanya boleh di luar garis lapangan saja , terkecuali jika ada pelanggaran-pelanggaran yang harus memasuki lapangan

Lama Permainan
Lama normal: 2x20 menit
Lama istiharat: 10 menit
Lama perpanjangan waktu: 2x5 menit (bila hasil masih imbang setelah 2x20 menit waktu normal)
Ada adu penalti (maksimal 5 gol) jika jumlah gol kedua tim seri saat perpanjangan waktu selesai
Time-out: 1 per tim per babak; tak ada dalam waktu tambahan
Waktu pergantian babak: maksimal 10 menit

Kejuaraan futsal terkemuka
Piala Dunia Futsal FIFA
1989 (di RotterdamBelanda): dimenangkan Brasil
1992 (di Hong Kong): dimenangkan Brasil
1996 (di BarcelonaSpanyol): dimenangkan Brasil
2000 (di Guatemala): dimenangkan Spanyol
2004 (di Taiwan): dimenangkan Spanyol.
2008 (di Brasil): dimenangkan Brasil.
2012 (di Thailand): dimenangkan Brasil
 
Pertandingan Futsal
Piala Dunia Futsal AMF
1982 (di Sao PauloBrasil): dimenangkan Brasil
1985 (di MadridSpanyol): dimenangkan Brasil
1988 (di MelbourneAustralia): dimenangkan Paraguay
1991 (di MilanItalia): dimenangkan Portugal
1994 (di Argentina): dimenangkan Argentina
1997 (di Meksiko): dimenangkan Venezuela
2000 (di La PazBolivia): dimenangkan Kolombia
2003 (di Paraguay): dimenangkan Paraguay.
2007 (di MendozaArgentina): dimenangkan Paraguay


Daftar Pustaka 
Sumber :